Title
: The
Black Point
Genre
:
Action-Romance, Comedy, Sad
Rate
: 15+
Leght
:
Seasons
Cast
: - Lee Jimin
- Jung Sungha
- Lee Jihyuk
- Lee Yong Gun
Disclamer
: Ini adalah FF action pertama
yang
kubuat. Semoga suka ya ^^
^^Happy Reading^^
3 Minggu kemudian...
Jimin POV
Pria konyol itu... Entah
mengapa wajah itu selalu terlintas di benakku.. Sekarang, tak terasa sudah
hampir satu bulan aku mengenalnya. Dan lucunya, sampai sekarang aku tetap tidak
tahu namanya. Hmm.. Mungkin.. Karena aku terlalu takut untuk menanyakannya..
“Pip” Tiba-tiba handphone yang ada di sakuku bergetar.
“Jihyuk oppa?”, ucapku saat kulihat sebuah nama yang muncul
di layar handphoneku.
Dengan
segera akupun mengangkat panggilan tersebut.
“Iya, kenapa?”
“Jimin? Kau dimana?”
“Di rumah. Ada apa?”
“Tunggu aku 10 menit
lagi. Aku akan menjemputmu..”
“Ta-tapi, kenapa?”
“Sudah.. Nanti saja
kuceritakan. Bersiaplah!”
“Tut tut” Tiba-tiba panggilan Jihyuk oppa terputus.
Dengan
segera aku bergegas mengganti pakaianku.
“Jimin? Ayo ikut oppa!”, ucap Jihyuk oppa setelah sampai di
rumah.
“Ta-tapi, kemana?”
“Ke rumah teman ayah. Dia tahu sesuatu tentang pembunuh itu”
***
Dengan
cepat kami pergi ke rumah teman ayah yang diceritakan oleh Jihyuk oppa tadi.
Sampai sidana kami disambut ramah olehnya.
“Apa kau Jihyuk? Astaga... Kau sudah besar sekali..”
“Hahaha.. Iya paman. Perkenalkan ini Jimin, adikku”
“A-apa? Ini Jimin?”, tanya paman itu tidak percaya sambil
memandang aneh ke arahku.
“E, baiklah paman. Boleh kita mulai pembicaraannya?”
“Oh, iya iya.. Maaf. Silahkan masuk..”
“Jadi paman tahu tentang orang ini?”
“Iya. Ini anak Tuan Kim. Dulu, perusahaan ayahmu sempat
bersitegang dengan perusahaan milik Tuan Kim. Tuan Kim sempat menuntut
perusahaan ayahmu, namun pada akhirnya perusahaan mereka bangkrut. Mungkin
anaknya tidak terima dan balik berbalas dendam dengan membunuh ayahmu”
“A-apa? Ja-jadi apa paman tahu dimana ia sekarang?”
“Tidak. Tapi paman akan mengusahakan untuk mencari alamatnya.
”Benarkah? Terimakasih benyak paman”
Dengan
lega, kami pergi meninggalkan rumah paman itu. Sejenak, terlintas di benakku
wajah pria konyol itu.
“Astaga.. Aku lupa!”
“Ada apa?”
“Oppa. Aku berhenti disini saja”
“Tapi..”
“Sudah! Jangan bannyak tanya. Turuni saja aku!”
Dengan
cepat aku berlari menuju ke taman. Di tengah jalan, aku berhenti sejenak.
Mataku terbelalak saat melihat sesosok gambar yang terpajang di sebuah pamflet.
Itu bukannya pria konyol itu? A-apa? Sung..
Ha.. Jung? Jadi.. Dia artis?
Dengan
kesal aku berlari menuju ke taman. Dari kejauhan kulihat dia sedang duduk di
atas kursi yang biasa kutempati.
“Kau! Kau artis, kan?”, ucapku marah sambil menarik kerah
bajunya.
“Da-dari mana k-kau tahu?”
“Kenapa kau mendekatiku?! Untuk memanfaatkan aku supaya bisa
menjadi pelindungmu, hah?!”
“Tidak, Minie. Aku tidak punya maksud apapun”
“Sudah! Kau! Jangan menghampiriku lagi! Aku benci artis! Aku
tidak mau menambah masalah dengan berurusan dengan orang sepertimu!”
Dengan
penuh kekecewaan aku bergegas pergi meninggalkanya.
“Jimin”, panggilnya menghentikanku.
“Datanglah ke konserku besok di Olimpic Stadium. Aku akan
menunggumu”
Tanpa
menghiraukan perkataannya aku tetap pergi melangkahkan kakiku kembali.
Dasar bodoh! Konyol! Aku benci kau!
Esok harinya...
“Sunghaaa!!! Kenapa kau siksa aku jadi seperti ini, hah?!
Aku sudah membencimu, tapi kenapa? Kenapa aku tetap melangkah pergi ke tempat
ini?!”, celotehku dalam hati sambil memandang ke arah pintu Olimpic Stadium.
“Hey! Jangan diam saja! Apa kau benar-bena ingin membeli
tiketnya, hah?!”, ucap seorang wanita mengagetkanku.
“Eh.. I-iya..”
Dengan
langkah ragu aku melangkah ke tempat loket lalu membeli sebuah tiket konser.
“Dag.. Dig.. Dug...” Ke-kenapa
jantungku tiba-tiba jadi seperti ini?
“Ah... Aku pergi saja.. Tapi...”
Seketika
hatiku dipenuhi rasa bimbang. Setelah melewati banyak pertimbangan akhirya
kuputuskan untuk masuk ke ruang konser. Dari arah jauh terdengar suara alunan
musik.
Pasti konsernya sudah dimulai..
“Lagu ini khusus kupersembahkan untuk seseorang ang sangat
kucintai. Dimanapun ia berada, kuharap dia mendengar...”, ucap Sungha sebelum
memulai pertunjukkannya.
Sorakan dan tepuk tangan penontonpun
memeriahkan konser tersebut.
“Heart, Beats, Fast.. Colours and promises.. How to be
brave.. How can i love when i’m afraid to fall, but watching you stand
alone.. All of my doubt suddenly goes
away somehow.. One step closer”, nyanyian penonton mengiringi petikan lagu yang
dimainkan oleh Sungha.
Seketika
air mataku mengalir membentuk sungai-sungai kecil.
Tiba-tiba
Sungha melihatku lalu menghentikan permainan gitarnya.
Dia pasti dengan mudah bisa mengenaliku
karena penampilanku yang berbeda dari wanita-wanita lainnya..
Dengan cepat aku mengusap
air mataku lalu bergegas pergi.
“Jimin!”, panggil Sungha menghentikan langkahku.
“Kenapa? Kenapa kau menyusulku?”, ucapku tanpa membalikkan
badan dan menatapnya.
“Aku tidak percaya kau benar-benar datang, Jimin.
Terimakasih”
Dengan
gembira ia melangkahkan kaki dan berniat ingin memelukku.
“Sudah! Jangan sentuh aku! Aku selalu saja berdikap kasar
padamu, tapi mengapa kau tetap bersikap baik padaku?! Benar-benar memuakkan!”,
ucapku lalu mendorongnya hingga jatuh tersungkur.
“Ji.. Min..”, ucapnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Jleb”, seperti ada yang menyayat hatiku. Tanpa berkata apapun,
aku melangkahkan kakiku kembali pergi darinya.
@Jimin house
“Aaaa!!!”, teriakku sambil menjerit sekencang-kancangnya.
Ekpresi itu.. Rasanya benar-benar
menyakitkan mengingatnya.
“Jimin? Kau kenapa?”, panggil Jihyuk oppa dari luar kamar.
“Klek” Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
Pasti Jihyuk oppa datang menghampiriku..
Dengan cepat aku mengusap
air mataku.
“Ada apa, Jimin?”
“Tidak. Tidak ada apa-apa”
“Lalu, kenapa kau menjerit? Eh.. Kau menangis? Apa adik oppa
juga bisa menangis?”
Seketika
air mataku kembali mengalir lebih deras.
“Kemarilah”, ucap Jihyuk oppa lalu memelukku.
“Kau sedang jatuh cinta, ya?”
“Jatuh cinta? Apa itu?”
“Apa? Yang benar saja kau tidak tahu”
“Aku tidak pernah mengerti tentang itu..”
“Ternyata Jimin kecilku belum sepenuhnya dewasa, ya”
“Maksud oppa?”
“Tidak. Hahaha”
***
Esok harinya...
Sungha bodoh! Pasti dia akan
tertawa jika melihatku duduk sendiri menunggunya disini..
1 jam..
.
.
2 jam..
.
.
3 jam..
.
.
Sudah hampir empat jam aku
menunggunya disini. Mataharipun sudah mulai tergelincir.
Sungha.. Apa dia tidak akan datang kesini
lagi? Hmm.. Mungkin.. Jika dia ingat dengan apa yang sudah kulakukan padanya
kemarin.
Tiba-tiba
terdengar suara gemuruh. Satu per satu air hujan mulai turun. Perlahan semakin
deras. Seketika air mataku mengalir bersama dengan ketakutan yang menyelimuti
hatiku.
“Maafkan aku.. Sungha..”, ucapku dalam hati.
Tiba-tiba
kurasakan air hujan berhenti membasahiku. Kulihat sepesang kaki sedang berdiri
di depanku.
“Bodoh”, ucap Sungha sambil memandang cemas ke arahku.
Seketika
aku langsung memeluknya. Sontak iapun terkejut.
“Kau benar-benar datang? Apa kau tidak marah padaku?”,
ucapku sambil terisak.
“Dasar bodoh! Mana mungkin aku marah. Aku sudah tahu sikapmu
bagaimana..”
“M-maksudmu?”, ucapku sambil memukul dadanya.
“Aiss.. Sakit.. Kau ini lucu sekali, Minie”
“Behenti memanggilku Minnie!”
“Minie♥”
“Berhentiii!!!”
Dengan
kesal kulempar salah satu seppatuku ke arahnya.
“Hahaha”, tawanya puas lalu pergi melarikan diri.
***
@Mobil
“Kau rindu aku, ya?”, ucap Sungha penuh percaya diri.
“Sudah! Kau fokus saja mengendarai mobil.
“Hahaha.. Terimakasih, ya..”
“Terimakasih untuk apa?”
“Terimakasih karena sudah datang ke konserku”
Mobil
Sunghapun berhenti tepat di depan rumahku.
“Terimakasih kembali, bodoh!”
“Hey kau! Lihat besok ya!”
“Week”, ejekku lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
“Hahaha.. Dasar aneh..”
***
@Jimin house
“Tok yok tok”
“Buka pintu cepat sana!”, perintah Jihyuk oppa sambil
mendorong-dorong tubuhku.
Dengan
malas akupun melangkahkan kaki untuk membuka pintu.
“Kenapa datang malam-malam begini?”
“Bos, kita dapat tantangan lagi dari Geng Dark Man”
“Aiss.. Kau ini.. Pelankan suaramu! Oke, besok kita habisi
mereka. Jam berapa?”
“Jam 4 sore”
“Baiklah.. Kerahkan semua anggota. Sekarang, cepat pulang
sana!”
“I-iya bos”
“Kenapa Jimin? Kau mau berkelahi lagi, ya?”, seru Jihyuk
oppa curiga padaku.
“Jangan campuri urusanku!”
“Hmm.. Terserah padamu saja.. Kau memang lebih pantas jadi
laki-laki”
“Sudah. Aku mau tidur”
“Ya sudah.. Selamat malam, Jimin kecilku”
“Brakk”, balasku dengan kasar menghempaskan pintu
***
@Taman
Sungha.. Hihihi.. Pasti dia
sudah lama menungguku.
“Hai Minie!”, panggilnya dengan penuh semangat saat
melihatku datang.
“Sungha, maaf. Aku terburu-buru. Aku harus pergi”
“Pasti kau mau berkelahi lagi, kan?”
“Eh.. Apapun.. Tolong mengertilah..”
“Tidak! Jangan berkelahi lagi!”
“Tidak bisa.. Aku ketua gengnya. Tidak mungkin aku
membiarkan semua anggotaku bertarung sendiri”
“Kau iniii... Baiklah, kalau begitu aku ikut. Tidak mungkin
aku membiarkanmu terluka lagi”
“Ta-tapi..”
“Kau meragukanku, hah? Tidak tahu siapa aku?”
“Hee.. Aiss.. Baiklah..”
Dengan
berat hati aku membawa Sungha pergi bersamaku.
***
“Bos, kenapa lama sekali?”
“Aiss.. Kau mau kupukul, hah?”
“Kau benar-benar hebat, Minie.. Berhati-hatilah.. Aku akan
menjadamu di belakang”
Tanpa
pikir panjang mereka langsung menyerang. Dengan gesit kutangkis semua pukulan
yang mengarah padaku. Kupukul mereka satu per satu. Tiba-tiba tanpa
sepengetahuanku ada pukulan yang datang padaku dari arah samping. Dengan cepat
Sungha menangkisnya lalu balik menghabisinya. Pukulan demi pukulan berhasil
ditepisnya hingga semua lawan terbaring lemas kewalahan.
“Hebat”, ucapku tidak percaya.
Tak kusangka.. Ternyata dia lebih hebat
dariku..
“Bagaimana?”, ucapnya bangga sambil tersenyum nakal
kepadaku.
Tiba-tiba
ada seorang lawan yang menyerang dari arah depan. Dengan reflek Sungha langsung
membalikkan badan dan menutupi tubuhku.
“Jleb” Tiba-tiba sebuah pisa menancap di perut Sungha.
“Ah”, ucapnya kesakitan sambil mencabut pisau tersebut.
Dengan
penuh amarah kutarik rambut orang itu lalu kupatahkan lehernya sampai ia
meringis kesakitan.
“Bos! Cepat bawa dia pergi! Serahkan saja semuanya pada
kami!”
“I-iya”
Seketika
air mataku mengalir melihat banyak darah yang mengucur dari perutnya. Dengan
cepat kuangkat dia masuk ke dalam mobil lalu bergegas pergi menuju ke Rumah
Sakit Unit Darurat terdekat.
***
“Hyaaa!!!”, jeritku di dalam hati.
Kurasakan
sesak menyelimuti hatiku. Akupun menangis ketakutan.
Mengapa? Mengapa harus Sungha? Tuhan.. Apa
setelah ayah kau juga akan mengambil Sungha?
Tak lama kemudian dokterpun
keluar dari ruang ICU.
“Apa Anda isteri dari Tuan Jung?”
“Eh, i-iya” Terserahlah..
“Syukurlah.. Tuan Jung masih bisa diselamatkan. Ia telah
melewati masa krisisnya. Sekarang, tunggu saja sampai ia sadar. Tapi, sebelum
itu pasien harus pindah kamar terlebih dahulu”
“Ba-baik.. Terimakasih, dok”
Rasa
lega seketika menyelimuti hatiku saat kulihat Sungha dalam kondisi baik sedang
dipindahkan menuju kamar lainnya.
Terimakasih, Tuhan.. Terimakasih karena
tidak mengambil Sunghaku..
***
3 hari kemudian..
Sungha POV
Sinar mentari perlahan
menembus kelopak mataku. Samar-samar tergambar wajah seseorang.
“Minie”, ucapku sambil tersenyuk kepadanya.
“Apa kau sudah sadar?”, ucap Jimin sambil mengibaskan
tangannya ke arahku.
“Hmm”
“Syukurlah”
Kulihat
tangannya semakin erat menggenggam tanganku.
“Hehehe”
“Kenapa?”
“Tidak.. AH”
Kurasakan
sakit menyelimutiku saat kucoba untuk duduk.
“Kau ini! Jangan memaksakan diri jika masih sakit!”
“Minie, antarkan aku ke taman sekarang”
“Tapi.. Kau kan masih sakit”
“Ayolah..”, mohonku dengan wajah sedikit memelas.
“Ba-baiklah..”
Dengan
terpaksa iapun menuntunku menuju ke sebuah taman yang ada di rumah sakit
tersebut. Dengan berhati-hati ia membantuku berdiri dari kursi roda lalu duduk
di kursi taman.
“Kau ini benar-benar keras kepala! Kenapa kau menolongku,
hah?! Biarkan saja aku yang ditusuk”
“Karena aku suka padamu..”
“Iya, aku juga suka punya teman sepertimu”
“Heeh.. Dasar bodoh! Bukan itu maksudku.. Hmm, begini saja..
Apa kau tahu cinta pada pandangan pertama?”
“Cinta pada pandangan pertama? Ehh...”
Ya ampun.. Penampilannya saja mengerikan,
secara nalr dia benar-benar polos.
“Jadi, kau tidak tahu soal itu? Kau sebenarnya pernah
mencintai tidak sih?”
“Cinta? Apa itu? Aku tidak mengerti tentang semua itu”
“Astaga..”
“Heeh”, ucapnya sambil tersenyum malu.
“Dag.. Dig... Dug..”
Ternyata senyumannya manis juga..
“Lalu, apa kau tahu ini?”, ucapku lalu mengarahkan wajahku
padanya.
Kurasakan
hembusan napasnya lalu kukecup lembut bibirnya. Sontak, iapun terkejut. Seketika
tubuhnya membeku bersama dengan rona merah yang timbul di pipinya.
“Jimin.. Aku mencintaimu.. Benar-benar mencintaimu.. Bukan
untuk memeras atau memanfaatkanmu. Tapi ini tulus.. Aku tulus mencintaimu
seperti kecupanku tadi..”
“Ja.. Jadi... Kau sedang menembakku?”
“Iya.. Terimakah hatiku, Jimin”, ucapku sambil menggenggam
erat tangannya.
“Tapi.. Kenapa? Kenapa kau mau dengan orang berandalan
sepertiku? Bukankah masih ada banyak wanita-waniita cantik yang menantimu?”
“Iya, tapi kau berbeda. Kau membuatku mengetahui arti cinta
yang sesungguhnya. Kau membuatku mencintai segala kekuranganmu. Jadi, terimalah
hatiku, Jimin.. Aku serius”
“Dag.. Dig.. Dug..”, jantungku seketika seperti akan
meledak.
“Iya”, ucapnya dengan suara lembut.
“Haaa!!!”, teriakku sambil memeluk erat dirinya.
Aku tidak percaya! Ternyata Jimin juga
mencintaiku!
***
“Jimin, terimakasih..”
“Iya”
Seketika
terbentuk rona merah di pipinya.
“Hmm.. Kau bilang kau tinggal sendirian di apartemenmu, kan?
Baiklah, aku akn merawatmu untuk beberapa hari”
“A-ap? Kau yakin?”
“Iya, asalkan kau tidak macam-macam padaku”
“Tentu.. Hahaha”
@Sungha Apartemen
“Baiklah, disini ada banyak kamar. Terserah kau mau tidur
dimana”
“Tidak, aku tidak mau tidaur dulu. Aku mau melihat bintang”,
ucapnya lalu berjalan ke arah balkon.
“Boleh aku tanya sesuatu padamu?”
“Iya”
“Kenapa kau takut pistol?”
“Karena ayahku mati tertembak saat pesta ulang tahunku”
“A-apa? Tertembak?”
“Iya.. Ini pembunuhnya”, ucapnya sambil menunjukkan sebuah
foto padaku.
“Ini..”
“Hmm.. Kalo ketemu pasti langsung kubunuh dia..”
“Hmm.. Bagaimana kalau aku ku mainkan sebuah lagu?”
“Iya! Nyanyikan untukku lagu My Heart Will Go On”
Dengan
cepat akupun mengambil gitar akustikku yang tergeletak di tempat tidur. Perlahan,
jariku menari membentuk alunan lembut. Dengan suara lembutnya ia bernyanyi
mengiringi petikan gitar yang dimainkan olehku.
Tuhan.. Tolong jaga cinta kami.. Semoga
selamanya kami selalu seperti ini..
The Black Point Shoot
2 Part 2 - End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar